Malam/Siang
Yang Lama itu Lebih Baik

Entah kenapa, terlintas kalimat itu dibenakku, yang lama adalah lebih baik, tidak sepenuhnya benar, tapi aku yakin yang lebih lama itu lebih baik, memang kalau makanan semakin lama semakin tidak enak dan buruk buat dikonsumsi, jika itu makanan, bagaimana dengan resep? resep lama dengan resep modern saat ini? kamu yang bisa menjawab, bagaimana jika barang? menurutku lebih baik yang lama, motor lama dengan motor saat ini memang keren dan bagus motor saat ini, tapi kualitas bagaimana? lebih baik yang dulu walau lebih bagus sekarang, aku hanya berfikir saat ini yang terpenting adalah gaya, bukan kualitas, aku berani mengatakan ini karna banyak orang berkata jaman semakin lama semakin edan, oleh karna itu kualitas semakin lama semakin edan, kualitas orang dulu dan sekarang jauh berbeda, sangat jauh, orang dulu memiliki kualitas yang sangat baik dari pada saat ini yang hanya mengandalkan teknologi, memang dengan berkembangnya teknologi semua jadi mudah, tapi ingat teknologi membuat orang malas! teknologi tidak patut untuk disembah! dan teknologi itu bukan Tuhan! karna teknologi sangat berbeda jauh dengan Tuhan. dan tidak akan pernah sama sampai kiamat pun!

Jangan Salahkan kemiskinan

tadi abiz nonton uya emang kuya, dan yang di hipnotis pas anak remaja, intinya adalah anak remaja tidak mau kuliah karena males, tidak mau bekerja karena tidak mau disuruh², pada ahir acara uya ngomong gini “jangan salahkan siapapun kalau kita terlahir sebagai orang miskin, tapi kalau kita sudah dewasa salahkan diri kamu sendiri kalau kamu miskin” pelebaranya, waktu kecil jangan menyalahkan orang tua atau siapapun kalau kamu terlahir miskin, tapi kalau kamu sudah dewasa seperti ini masih miskin maka salahkan diri kamu sendiri, karena kamu tidak mau bekerja dan itu berarti kamu tidak ingin kaya.. aku mau usul, bagaimana bisa mengatakan kata bercoretan merah itu? Sementara kita terlahir dari orang tidak punya, boro boro punya cita cita mau jadi orang sukses, modal buat biyaya sekolah aja g punya? Gimana mau nuntut ilmu, ibarat makan aja kurang?
Selengkapnya…

Tag(s): menurutku
Pensil dan Penghapus

Jika kamu tidak bisa menjadi pensil untuk menulis kebahagiaan seseorang, maka jadilah Penghapus yang menghapus kesedihan seseorang

Tag(s): apaya
Hati ini

Mungkin hati ini sudah jenuh, merasakan ketidak adilan akan otakku, maafkan diriku akan hatiku, yang selalu bertolak belakang untuk tidak mengikutimu, aku hanya tidak mau suatu saat nanti kau terluka kembali, karena sesungguhnya, luka pada awal ini tidak terlalu menyakitkan dari pada luka pada ahirnya nanti, mengertilah akan diriku sedikit wahai hatiku, sebenarnya kamu juga mengerti akan siapa aku, tapi kenapa, kalau aku mengingatkanmu dengan ucapan siapa aku, kamu tambah terasa sakit, taukah kamu, bila inginmu ini tidak dapat terwujutkan, engkau akan tambah menyakitkan lagi dari pada ini, apakah kamu sudah siap untuk lebih sakit lagi dari pada ini, mungkin kamu sudah jenuh karena tertanam dalam ragaku, tapi ya inilah aku, fahamilah wahai hatiku, biarkan walaupun banyak hati yang lebih bahagia dari pada kamu, tapi kamu adalah hati yang paling baik yang pernah ada dalam hidupku dan tidak akan dimiliki oleh insan manapun..

Tag(s): apaya